Video Conference: Dari ISDN ke IP

Posted: December 5, 2010 in Studies

Walaupun Layanan Videoconferencing telah diyakini merupakan suatu prasarana bisnis yang mampu menghemat resource (waktu dan biaya) perusahaan, masih terlihat jelas relaktansi perusahaan untuk menggunakan layanan ini secara luas disebabkan oleh beberapa hal. Sistem videoconferencing masa lalu, biasanya relatif mahal, namun tidak handal. Sebagian pengguna sering merasa stress dan tidak nyaman jika suatu rapat penting harus tertunda hanya, karena sistem videoconferencing (masa lalu) tidak siap digunakan pada waktunya. Bahkan ada yang beranggapan terlalu “beresiko” untuk menggantungkan diri pada prasarana dengan availability dan reliability rendah untuk suatu rapat yang sangat penting. Para ahli juga berpendapat bahwa sistem videoconferencing yang sampai saat ini mayoritas memanfaatkan teknologi circuit switch ISDN (integrated service digital network) tidak dapat berkembang seperti yang diharapkan, karena biaya CPE (customer premises equipment) yang terlalu mahal, ketersediaan layanan ISDN yang dalam beberapa kasus kurang memadai dan tidak tersedianya kapabilitas manajemen jarak-jauh (manajemen terpusat).

Kecederungan, yang masih relatif baru, untuk memindahkan layanan videoconferencing dari infrastruktur ISDN eksisting ke infrastruktur IP (Internet Protocol) telah memberikan harapan baru bagi peningkatan kembali penggunaan layanan Videoconferencing dan pertumbuhan pendapatan layanan berbasis IP bagi penyedia network. Penggunaan network berbasis IP diharapkan akan memungkinkan pengembangan aplikasi dan layanan terpadu yang menjanjikan efisiensi biaya yang signifikan, performansi yang lebih baik dan juga fleksibilitas. Dengan adanya peluang tersebut banyak perusahaan yang melakukan verifikasi untuk melakukan migrasi layanan videoconferencing berbasis ISDN menuju IP. Namun demikian, lonjakan migrasi inipun tidak langsung terlihat menonjol, hal ini mungkin disebabkan masih saja ada keraguan akan QoS (quality of services), reliability, dan security network IP, dan keinginan untuk memproteksi investasi, serta keengganan untuk mengadopsi teknologi baru, walaupun IP ternyata mampu mengisi kekurangan-kekurangan ISDN.

Tulisan ini mempunyai dua objektivitas utama yakni memaparkan videoconferencing warisan ISDN dan menjelaskan berbagai dorongan migrasi menuju videoconferencing IP, tantangan dan isu-isu terkait dengan proses migrasinya. Diawali dengan paparan layanan videoconferencing warisan ISDN. Kemudian akan difokuskan pada paparan kelebihan layanan videoconferencing IP dibandingkan pendahulunya, videoconferencing ISDN, serta berbagai dorongan untuk migrasi menuju layanan berbasis IP. Untuk melengkapi tulisan ini, di bagian akhir akan diidentifikasi berbagai hambatan yang mungkin timbul dan beberapa isu terkait migrasi dari Videoconferencing ISDN menuju IP.

Videoconferencing Warisan ISDN

Karena videoconferencing melibatkan transmisi sinyal voice dan video secara real time, maka pada awalnya layanan ini didesain untuk diselenggarakan pada network circuit-switch, network ISDN. Sampai saat ini, sebagian besar layanan videoconferencing di dunia diselenggarakan pada network ISDN. ISDN dipilih, karena dua hal utama. Pertama, ISDN tersedia dan cukup tersebar di seluruh belahan dunia, walaupun tidak seluas telepon biasa. Kedua, karena telah dapat diselesaikannya permasalahan compatibility dan interoperability yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu oleh badan-badan standar regional maupun internasional. Namun demikian, ISDN memang mempunyai beberapa kekurangan.

Biasanya enterprise network atau network yang dimiliki oleh suatu organisasi bisnis tidak berbasis ISDN. Sehingga, untuk menggunakan layanan Videoconferencing ISDN, suatu perusahaan/ organisasi secara khusus harus mengelar dan me-manage ISDN untuk mendukung aplikasinya. Hal ini berarti, paling sedikit akan ada tiga network berbeda dalam suatu perusahaan/ organisasi, yakni packet-switch data network, circuit-switch telephone network dan ISDN Videoconferencing Network. Biasanya ketiganya memerlukan tiga kapabilitas teknis yang berbeda, bahkan tiga kelompok staf yang berbeda pula.

Sistem Videoconferencing warisan ISDN tidak didesain untuk mendukung manajemen jarak jauh (manajemen terpusat). Untuk me-manage-nya, dibutuhkan staf pendukung yang hadir dalam ruangan yang sama, dimana system diinstal. Mungkin tidak akan terlalu bermasalah, jika jumlahnya hanya sedikit, namun jika sistem videoconferencing yang dibutuhkan cukup banyak, biaya operasionalnya juga menjadi tidak sedikit.

Penggelaran ISDN service biasanya tidak menyeluruh. Banyak penyelenggara telekomunikasi tidak menggelar ISDN service di setiap node, sehingga pengembangan aplikasi ISDN sangat dibatasi oleh ketersediaan koneksi ISDN. Kalaupun tersedia koneksi ISDN, instalasinya juga membutuhkan waktu yang relatif lama.

Seperti panggilan telepon biasa, suatu panggilan Videoconferencing melalui sambungan ISDN akan dibebani biaya percakapan berdasarkan lamanya panggilan dalam satuan menit. Bayangkan untuk panggilan Videoconferencing dengan kualitas bisnis (bukan amatir), biasanya memerlukan 384 kbps atau 6 kali 64 kbps kanal digital untuk satu end point. Jika ada dua endpoint yang terlihat dalam konferensi dengan durasi 1 jam, berarti dibutuhkan 12 koneksi kanal digital ISDN selama 60 menit, belum lagi kalau diperlukan panggilan jarak jauh. Hal ini menunjukkan bahwa layanan videoconferencing berpotensi biaya tinggi.

Seperti telah diuraikan di atas, suatu sambungan videoconferencing ISDN biasanya melibatkan panggilan video multi-kanal ISDN. Jika salah satu atau lebih kanal jatuh ditengah-tengah sambungan videoconferencing, sedikit banyak akan mempengaruhi kualitas sambungan Videocerencing tersebut dan bahkan tidak menutup kemungkinan panggilan akan jatuh. Beberapa sistem videoconferencing ISDN (MCU dan atau endpoint) telah dilengkapi dengan kemampuan untuk mengurangi pengaruh buruk ini, namun demikian kejadian ini masih saja sering terjadi dalam suatu panggilan videoconferecing ISDN.

Dorongan Untuk Migrasi ke Layanan Berbasis IP

Karena sebagian terbesar sistem Videoconferencing yang ada sekarang ini masih didominasi ISDN, introduksi dan pengembangan layanan Videoconferencing berbasis IP akan cukup menantang. Akan tetapi, berbagai dorongan untuk migrasi karena kebutuhan masa kini dan kelebihan-kelebihan yang dijanjikan IP akan mengakselerasi penggelaran layanan videoconferencing berbasis IP tersebut.

Melihat adanya dorongan yang kuat untuk bermigrasi ke layanan berbasis IP dan kebutuhan untuk tetap mempertahankan layanan warisan ISDN, hampir semua sistem videoconferencing yang tersedia saat ini didesign untuk dapat mendukung keduanya (network ISDN dan IP). Perusahaan/ organisasi yang telah sedang dan akan mengimplementasikan layanan videoconferencing melihat “sistem hibrida” ini sebagai salah satu solusi untuk menciptakan migrasi yang mulus menuju implementasi layanan berbasis IP.

Berbagai hal yang dijanjikan layanan berbasis IP terkait dengan keunggulan finansial, efisiensi biaya, fleksibilitas, kemungkinan kolaborasi, kemudahan operasi dan manajemen network dan layanan serta keunggulan fitur merupakan hal-hal utama yang mendorong terjadinya migrasi dari ISDN ke IP.

Salah satu keuntungan menggelar layanan Videoconferencing IP adalah dapat digunakannya network data eksisting milik perusahaan atau organisasi sebagai jaringan trasnportnya. Hal ini memungkinkan penghematan biaya dan peningkatan efisiensi perusahaan. Lebih dari itu penggunaan jaringan packet-switch memungkinkan transmisi data, voice dan video dengan cara berbagi bandwidth, dimana pengalokasiannya bisa dilakukan secara dinamis.

Sistem Videoconferencing IP biasanya lebih murah dibanding system Videoconferencing ISDN, karena tidak memerlukan software ISDN. Dan bahkan dalam beberapa kasus, tidak perlu menggunakan codec yang terpisah, tetapi cukup dengan menggunakan PC-nya sebagai mesin pemroses IP Videoconferencing. Pada situasi ini, kamera PC adalah satu-satunya biaya tambahan yang diperlukan. Biaya penggunaan koneksi Videoconferecing melalui network IP biasanya tidak didasarkan pada waktu dalam satuan menit. Dalam beberapa kasus kemungkinan akan sangat murah biaya koneksinya, jika network IP eksisting sudah memadai untuk komunikasi video dan hanya dilakukan antara pengguna dalam suatu network IP, misal dalam satu VPN IP. Bahkan bebas bea jika penyedia network memberlakukan tariff tetap (flat rate). Sementara itu panggilan ISDN pada system Videoconferencing IP masih dimungkinkan. Dengan menambahkan fungsi Gateway pada network IP, maka panggilan dapat dilakukan dari dan/atau diterima dari network ISDN.

Tidak seperti ISDN, sistem videoconferencing IP selalu terhubung dengan suatu QoS Enable IP Network, sehingga manajemen jarak jauh (terpusat) sangat dimungkinkan. Dengan sistem manajemen terpusat, kebutuhan staf pendukung dan biaya operasi dan pemeliharaan yang besar dapat dihindarkan.

Karena mahalnya biaya instalasi videoconferencing ISDN, maka penggelarannya relatif terbatas dan biasanya ditempatkan di ruang rapat besar. Hal ini bisa berarti dua kondisi. Pertama, keterbatasan akses ke fasilitas videoconferencing, karena para penguna harus berbagi dengan pengguna lain dalam organisasi. Selain itu, hal ini juga bisa menimbulkan kesan bahwa fasilitas videoconferencing ini hanya untuk keperluan rapat khusus/spesial, bukan sarana keperluan sehari-hari seperti fax dan email. Dilain pihak, sistem videoconferencing IP dan network IP relatif lebih murah untuk dibeli dan digelar. Lebih dari itu, jika network IP eksisting yang telah ada digunakan untuk mendukung, maka layanan videoconferencing menyediakan akses ke LAN. Hal ini juga berarti bahwa akses hampir tak terbatas dan akan dapat mengubah citra ekslusifitas layanan ini, sehingga mendorong pemakaian layanan sebagai kebutuhan sehari-hari. Dan tidak menutup kemungkinan di kemudian hari layanan ini digunakan oleh pengusaha kecil menengah dan bahkan perumahan.

Videoconferencing IP dengan sifat IP-nya memungkinkan pengembangan dan implementasi aplikasi (diatasnya) secara cepat dan fleksibel. Hal ini diharapkan akan mampu meningkatkan kemudahan komunikasi dan kolaborasi. Kelebihan sifat IP ini diyakini akan mampu meningkatan produktifitas dan sekaligus merampingkan aktifitas bisnis perusahaan/ organisasi. Banyak perusahaan/ organisasi di dunia yang telah merasakan manfaat tersebut melalui kolaborasi video interaktif plus sharing dokumen misalnya.

Karena komunikasi video ini cukup “rakus” terhadap bandwidth, maka kualitas Videoconferencing sangat tergantung pada bandwidth koneksinya. Seperti diulas sebelumnya, panggilan video ISDN biasanya memerlukan bandwidth 384 kbps. Sedangkan pengguna network IP biasanya mempunyai akses dengan bandwidth 10/100 Mbps. Jadi, koneksi video IP di atas 384 kbps sangat dimungkinkan. Dengan demikian, komunikasi audio dan video dengan kualitas lebih baik tentunya akan dapat dicapai pula.

Tantangan Migrasi dari ISDN ke IP

Ada beberapa pertimbangan yang menyebabkan perusahaan/organisasi enggan untuk mengimplementasikan komunikasi berbasis IP, apapun layanan/aplikasi yang akan digelar di atasnya. Penyebabnya cenderung terfokus pada keraguan atas QoS, reliability, biaya, skenario dan keamanan (security). Namun demikian, penting untuk diingat, bahwa dengan design dan investasi network yang tepat, dampak negatif terkait dengan hal-hal tersebut bisa dihindari atau setidaknya dapat dikurangi.

Latensi, jitter dan echo yang dialami industri IP teleponi mungkin menjadi salah satu penyebab relaktansi penggelaran layanan berbasis IP. Hal ini telah terlanjur menciptakan opini masa tentang rendahnya QoS IP. Hal ini pada umumnya terjadi karena pada awal implementasinya dulu memang masih sangat kurang tersedia QoS dalam network. Tetapi, saat ini prasarana dan sarana untuk menjamin kualitas komunikasi voice dan video IP sudah tersedia. Klasifikasi dan penandaan trafik IP, antrian, fragmentasi paket data dan teknis interleaving telah dapat dilakukan, sehingga berbagai tipe trafik IP akan dapat dipisah-pisahkan dan ditangani sesuai kebutuhan uniknya. Sebagai contoh, trafik data tidak sensitive terhadap waktu, namun membutuhkan keakuratan pengiriman. Sebaliknya trafik voice dan video sangat sensitif terhadap waktu, tapi akurasi pengiriman bukan isu utama, di sini QoS mutlak diperlukan.

Kehandalan (reliability) network IP juga pernah menjadi suatu isu kritis. Seringkali diasumsikan bahwa penggabungan trafik voice dan video pada network data akan menyebabkan network menjadi tidak reliable. Namun demikian, beberapa tahun terakhir telah banyak penyedia service IP telah membangun komponen-komponen handal pada network sistem mereka dengan cara membangun call processing server clusters, redundant routers dan switches, serta sistem UPS (uninterrupted power system). Dengan pertimbangan desain network yang tepat, pembangunan network dengan reliability setara dengan network voice tradisional akan dapat dicapai.

Pertimbangan penting lain untuk dapat migrasi menuju videoconferencing IP adalah biaya. Banyak perusahaan/ organisasi yang telah melakukan investasi yang tidak sedikit untuk network service video ISDN. Bisa dipahami bahwa proteksi terhadap investasi ini diperlukan pada saat melakukan migrasi dari network ISDN ke suatu network berbasis IP. Dengan demikian, migrasi dengan resiko rendah akan kerugian investasi masa lampau sangat diperlukan. Hampir semua pemasok perangkat videoconferencing saat ini telah menciptakan produk-produk yang memungkinkan transisi yang mudah dan menjamin perangkat baru ini akan dapat diintegrasikan dengan infrastruktur eksisting. Dan ke depan produk-produk mereka akan semakin dapat menjamin interoperability, karena kebanyakan dari produk-produk tersebut akan dikembangkan berdasarkan pada open standards.

Ada beberapa strategi migrasi dari network ISDN menuju Network IP, tergantung ukuran dan pada tahap apa suatu organisasi bermigrasi. Bagi organisasi yang sedang ingin membangun kantor baru dan telah berancana untuk investasi perangkat data networking secara signifikan, penambahan layanan dalam data network mereka cukup beralasan. Bagi organisasi yang lebih kecil, pembongkaran total network yang lama dan instalasi network baru biasanya menjadi pilihan strategi migrasi ke komunikasi IP. Bagi perusahaan besar, termasuk penyedia service dan network, ada beberapa pilihan strategi, namun biasanya mereka melakukan pendekatan bertahap. Dengan berjalannya waktu, mereka akan menggelar network IP dan secara perlahan akan terus mengurangi ketergantungan terhadap teknologi ISDN. Untuk jangka panjang, total cost dan benefits dari perangkat, operasi pemeliharaan dan penyedia jasa harus terus dikurangi.

Yang terakhir isu yang biasanya menyeruak adalah masalah security atau keamanan, karena hampir semua perusahaan atau organisasi bisnis menerapkan Firewall dan Network Address Translators (NATs) pada network IP mereka. Kedua sistem keamanan tersebut menjadi hambatan tersediri bagi pengiriman voice dan video melalui network IP. Firewall, akan mencegah trafik yang tidak diinginkan masuk ke dalam network perusahaan/organisasi bisnis. Sedangkan NAT akan menyembunyikan network addresses dari jangkauan luar (Internet).

Terdapat beberapa solusi terhadap permasalahan firewall dan NAT untuk komunikasi IP meliputi bypassing, upgrade network dengan suatu aplikasi pada level gateway (ALG – application level gateway) dan menavigasi trafik melewati firewall dan NAT menggunakan metode semi-tunneling traversal. Semua solusi menawarkan kelebihan dan mempunyai kekurangan. Sebagai contoh mem-bypass firewall dan NAT, walaupun mudah dan murah, namun cukup berbahaya bagi keamanan network perusahaan. Biasanya hal ini bukan pilihan bagi mereka yang memperhatikan security. Meng-upgrade network dengan suatu ALG sangat mungkin, tapi metode ini cukup intrusive dan berpotensi tinggi biayanya, karena software upgrade yang spesifik terhadap vendor tertentu kadang diperlukan. Banyak pihak mengatakan bahwa metode semi-tunneling travesal memberi pilihan lain, yang lebih baik atas masalah firewall dan NAT, walaupun akan sedikit menambah delay. Pro dan kontra akan tetap ada, namun demikian pilihan ada di tangan perusahaan atau organisasi bisnis yang ingin bermigrasi menuju IP.

Penutup

Perusahaan/organisasi bisnis yang sedang melakukan investasi untuk komunikasi IP biasanya mempunyai beberapa tujuan utama yaitu mengurangi capex, menurunkan opex dan dilain pihak meningkatkan kapabilitas komunikasi dalam perusahaan/ organisasi. Perpindahan menuju Network IP ini juga menjanjikan kemampuan untuk menjalankan layanan video yang diperkaya dengan himpunan fitur-fitur maju dengan tambahan investasi minimal.

Walaupun perhatian terhadap videoconferencing IP terus meningkat, tetapi para pakar telekomunikasi percaya bahwa network dan service ISDN dan IP masih akan terus berjalan secara coexistence selama beberapa tahun kedepan. Perusahaan/organisasi masih tetap mendapat tantangan untuk dapat memanage dan mengintegrasikan berbagai jenis endpoint dari penyedia network/ service ISDN dan IP. Migrasi ke arah videoconferencing IP merupakan gerakan alami untuk industri, vendor dan service provider. Perusahaan/organisasi binis, penyedia service dan network, dan pemasok perangkat membutuhkan rencana survival dan sukses dalam suatu lingkungan mixed networks. /ASAS’04

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s