PERKEMBANGAN ANTARA AGAMA ISLAM DAN ANCAMAN TERORISME DI INDONESIA

Posted: December 5, 2010 in Studies

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

TERORISME merupakan sebuah istilah yang saat ini banyak digembar-gemborkan oleh media massa dunia. Tulisan ini ingin mendefinisikan istilah terorisme dalam perspektif yang luas dan membedakannya dengan perjuangan rakyat membela negaranya dan pembebasan wilayah mereka. Ini berarti bahwa kita akan mempertimbangkan langkah-langkah berikut.

Pertama-tama, mengacu pada referensi-referensi Islam guna menentukan kriteria utama, `mengidentifikasikan prinsip-prinsip yang menjadi sumber dalam menilai tujuan dan tindakankemanusiaan, dan menjadikan prinsip-prinsip tersebut sebagai basis penilaian kita dalammenghadapi kasus-kasus yang beraneka ragam.Kedua, mencek sifat alamiah manusia yang terbebas dari kepentingan terbatas, untuk mengidentifikasi peraturan-peraturan manusia yang dapat diketengahkan di kancah internasional sebagai kriteria manusia yang general.

Oleh karena itu, hasil sudi kami ini mesti meliputi berbagai masalah internasional dan menggambarkan kerangka kerja yang general. Ketiga, berdasarkan kemanusiaan dan Islam, kami menyimpulkan definisi yang eklusif dan komprehensif, misalnya memasukkan seluruh kriteria terorisme yang nyata dan mengecualikan kriteria terorisme yang sebenarnya termasuk prinsip-prinsip yang luhur.

Keempat, kemudian, kita mengaplikasikan kriteria-kriteria yang disampaikan tersebut ke contoh-contoh terorisme nasional dan internasional. Kita menceknya satu persatu berdasarkan hasil-hasil yang telah dibuat, lalu menyampaikan penilaian yang cocok dan pas, yang terbebas dari segala kesamaran atau kelicikan dan memberi kata sifat yang benar pada masing-masing tindakan.

1.2  Rumusan Masalah

Pada makalah ini penulis akan membahas tentang masalah perbandingan antara agama islam dan perkembangan terorisme di indonesi  agar dapat memperdalam tentang apa dan bagaimana perkembangan islam terhadap kemajuan terorisme di Indonesia

Beberapa pembahasan tersebut meliputi :

1.      Sejarah Terorisme.

2.      Pengertian Terorisme.

3.      Konsep perkembangan Terorisme.

4.      Pengaruh Terorisme terhadap agama Islam.

1.3  Tujuan Penulisan

Dengan pembuatan makalah ini, penulis berharap supaya perkembangan terorisme dan pengaruh-pengaruhnya dapat di minimalisir. Dan diharapkan juga pembaca dapat mengetahui bagaimana tindakan preventif dan penanganan yang paling tepat terhadap ancaman terorisme di Indonesia.

1.4  Ruang Lingkup

Dalam makalah ini, penulis hanya akan membahas tentang perbandingan antara agama islam dan perkembangan terorisme di indonesi.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1  Sejarah Terorisme

Sejarah tentang Terorisme berkembang sejak berabad lampau, ditandai dengan bentuk kejahatan murni berupa pembunuhan dan ancaman yang bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Perkembangannya bermula dalam bentuk fanatisme aliran kepercayaan yang kemudian berubah menjadi pembunuhan, baik yang dilakukan secara perorangan maupun oleh suatu kelompok terhadap penguasa yang dianggap sebagai tiran. Pembunuhan terhadap individu ini sudah dapat dikatakan sebagai bentuk murni dari Terorisme dengan mengacu pada sejarah Terorisme modern.

Meski istilah Teror dan Terorisme baru mulai populer abad ke-18, namun fenomena yang ditujukannya bukanlah baru. Menurut Grant Wardlaw dalam buku Political Terrorism (1982), manifestasi Terorisme sistematis muncul sebelum Revolusi Perancis, tetapi baru mencolok sejak paruh kedua abad ke-19. Dalam suplemen kamus yang dikeluarkan Akademi Perancis tahun 1798, terorisme lebih diartikan sebagai sistem rezim teror.

Kata Terorisme berasal dari Bahasa Perancis le terreur yang semula dipergunakan untuk menyebut tindakan pemerintah hasil Revolusi Perancis yang mempergunakan kekerasan secara brutal dan berlebihan dengan cara memenggal 40.000 orang yang dituduh melakukan kegiatan anti pemerintah. Selanjutnya kata Terorisme dipergunakan untuk menyebut gerakan kekerasan anti pemerintah di Rusia. Dengan demikian kata Terorisme sejak awal dipergunakan untuk menyebut tindakan kekerasan oleh pemerintah maupun kegiatan yang anti pemerintah.

Terorisme muncul pada akhir abad 19 dan menjelang terjadinya Perang Dunia-I, terjadi hampir di seluruh belahan dunia. Pada pertengahan abad ke-19, Terorisme mulai banyak dilakukan di Eropa Barat, Rusia dan Amerika. Mereka percaya bahwa Terorisme adalah cara yang paling efektif untuk melakukan revolusi politik maupun sosial, dengan cara membunuh orang-orang yang berpengaruh. Sejarah mencatat pada tahun 1890-an aksi terorisme Armenia melawan pemerintah Turki, yang berakhir dengan bencana pembunuhan masal terhadap warga Armenia pada Perang Dunia I. Pada dekade tersebut, aksi Terorisme diidentikkan sebagai bagian dari gerakan sayap kiri yang berbasiskan ideologi.

Bentuk pertama Terorisme, terjadi sebelum Perang Dunia II, Terorisme dilakukan dengan cara pembunuhan politik terhadap pejabat pemerintah. Bentuk kedua Terorisme dimulai di Aljazair di tahun 50an, dilakukan oleh FLN yang mempopulerkan “serangan yang bersifat acak” terhadap masyarakat sipil yang tidak berdosa. Hal ini dilakukan untuk melawan apa yang disebut sebagai Terorisme negara oleh Algerian Nationalist. Pembunuhan dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan keadilan. Bentuk ketiga Terorisme muncul pada tahun 60an dan terkenal dengan istilah “Terorisme Media”, berupa serangan acak terhadap siapa saja untuk tujuan publisitas. Bentuk ketiga ini berkembang melalui tiga sumber, yaitu:

  1. kecenderungan sejarah yang semakin menentang kolonialisme dan tumbuhnya gerakan-gerakan demokrasi serta HAM.
  2. pergeseran ideologis yang mencakup kebangkitan fundamentalis agama, radikalis setelah era perang Vietnam dan munculnya ide perang gerilya kota.
  3. kemajuan teknologi, penemuan senjata canggih dan peningkatan lalu lintas.

Namun Terorisme bentuk ini dianggap kurang efektif dalam masyarakat yang ketika itu sebagian besar buta huruf dan apatis. Seruan atau perjuangan melalui tulisan mempunyai dampak yang sangat kecil. Akan lebih efektif menerapkan “the philosophy of the bomb” yang bersifat eksplosif dan sulit diabaikan. Pasca Perang Dunia II, dunia tidak pernah mengenal “damai”. Berbagai pergolakan berkembang dan berlangsung secara berkelanjutan. Konfrontasi negara adikuasa yang meluas menjadi konflik Timur – Barat dan menyeret beberapa negara Dunia Ketiga ke dalamnya menyebabkan timbulnya konflik Utara – Selatan. Perjuangan melawan penjajah, pergolakan rasial, konflik regional yang menarik campur tangan pihak ketiga, pergolakan dalam negeri di sekian banyak negara Dunia Ketiga, membuat dunia labil dan bergejolak. Ketidakstabilan dunia dan rasa frustasi dari banyak Negara Berkembang dalam perjuangan menuntut hak-hak yang dianggap fundamental dan sah, membuka peluang muncul dan meluasnya Terorisme. Fenomena Terorisme meningkat sejak permulaan dasa warsa 70-an.

Terorisme dan Teror telah berkembang dalam sengketa ideologi, fanatisme agama, perjuangan kemerdekaan, pemberontakan, gerilya, bahkan juga oleh pemerintah sebagai cara dan sarana menegakkan kekuasaannya.

Terorisme gaya baru mengandung beberapa karakteristik:

  1. ada maksimalisasi korban secara sangat mengerikan.
  2. keinginan untuk mendapatkan liputan di media massa secara internasional secepat mungkin.
  3. tidak pernah ada yang membuat klaim terhadap Terorisme yang sudah dilakukan.
  4. serangan Terorisme itu tidak pernah bisa diduga karena sasarannya sama dengan luasnya seluruh permukaan bumi.

1.2 Pengertian Terorisme

Teror atau Terorisme tidak selalu identik dengan kekerasan. Terorisme adalah puncak aksi kekerasan, terrorism is the apex of violence. Bisa saja kekerasan terjadi tanpa teror, tetapi tidak ada teror tanpa kekerasan. Terorisme tidak sama dengan intimidasi atau sabotase. Sasaran intimidasi dan sabotase umumnya langsung, sedangkan terorisme tidak. Korban tindakan Terorisme seringkali adalah orang yang tidak bersalah. Kaum teroris bermaksud ingin menciptakan sensasi agar masyarakat luas memperhatikan apa yang mereka perjuangkan. Tindakan teror tidaklah sama dengan vandalisme, yang motifnya merusak benda-benda fisik. Teror berbeda pula dengan mafia. Tindakan mafia menekankan omerta, tutup mulut, sebagai sumpah. Omerta merupakan bentuk ekstrem loyalitas dan solidaritas kelompok dalam menghadapi pihak lain, terutama penguasa. Berbeda dengan Yakuza atau mafia Cosa Nostra yang menekankan kode omerta, kaum teroris modern justru seringkali mengeluarkan pernyataan dan tuntutan. Mereka ingin menarik perhatian masyarakat luas dan memanfaatkan media massa untuk menyuarakan pesan perjuangannya.

Namun, belakangan, kaum teroris semakin membutuhkan dana besar dalam kegiatan globalnya, sehingga mereka tidak suka mengklaim tindakannya, agar dapat melakukan upaya mengumpulkan dana bagi kegiatannya.

Mengenai pengertian yang baku dan definitive dari apa yang disebut dengan Tindak Pidana Terorisme itu, sampai saat ini belum ada keseragaman. Menurut Prof. M. Cherif Bassiouni, ahli Hukum Pidana Internasional, bahwa tidak mudah untuk mengadakan suatu pengertian yang identik yang dapat diterima secara universal sehingga sulit mengadakan pengawasan atas makna Terorisme tersebut. Oleh karena itu menurut Prof. Brian Jenkins, Phd., Terorisme merupakan pandangan yang subjektif. Tidak mudahnya merumuskan definisi Terorisme, tampak dari usaha Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan membentuk Ad Hoc Committee on Terrorism tahun 1972 yang bersidang selama tujuh tahun tanpa menghasilkan rumusan definisi. Pengertian paling otentik adalah pengertian yang diambil secara etimologis dari kamus dan ensiklopedia. Dari pengertian etimologis itu dapat diintepretasikan pengembangannya yang biasanya tidak jauh dari pengertian dasar tersebut.

Menurut Black’s Law Dictionary,

Terorisme adalah kegiatan yang melibatkan unsur kekerasan atau yang menimbulkan efek bahaya bagi kehidupan manusia yang melanggar hukum pidana (Amerika atau negara bagian Amerika), yang jelas dimaksudkan untuk:

a. mengintimidasi penduduk sipil.

b. mempengaruhi kebijakan pemerintah.

c. mempengaruhi penyelenggaraan negara dengan cara penculikan atau pembunuhan.

Muladi memberi catatan atas definisi ini, bahwa hakekat perbuatan Terorisme mengandung perbuatan kekerasan atau ancaman kekerasan yang berkarakter politik. Bentuk perbuatan bisa berupa perompakan, pembajakan maupun penyanderaan. Pelaku dapat merupakan individu, kelompok, atau negara. Sedangkan hasil yang diharapkan adalah munculnya rasa takut, pemerasan, perubahan radikal politik, tuntutan Hak Asasi Manusia, dan kebebasan dasar untuk pihak yang tidak bersalah serta kepuasan tuntutan politik lain[5].

Menurut Webster’s New World College Dictionary (1996), definisi Terorisme adalah “the use of force or threats to demoralize, intimidate, and subjugate[6].” Doktrin membedakan Terorisme kedalam dua macam definisi, yaitu definisi tindakan teroris (terrorism act) dan pelaku terorisme (terrorism actor). Disepakati oleh kebanyakan ahli bahwa tindakan yang tergolong kedalam tindakan Terorisme adalah tindakan-tindakan yang memiliki elemen[7]:

1.    Kekerasan

2.    tujuan politik

3.    teror/intended audience.

Definisi yang dikemukakan oleh beberapa lembaga maupun penulis, antara lain :

Menurut Brian Jenkins, Terrorism is the use or threatened use of force designed to bring about political change.

Menurut Walter Laqueur, Terrorism consitutes the illegitimate use of force to achieve a political objective when innocent people are targeted.

Menurut James M. Poland. Terrorism is the premeditated, deliberate, systematic murder, mayhem and threatening of the innocent to create fear and intimidation, in order to gain a political or tactical advantage, usually to influence audience.

Menurut Vice President’s Task Force, 1986. Terrorism is the unlawful use or threat of violence against persons or property to further political or social objectives. It is usually intended to intimidate or coerce a government, individuals or groups, or to modify their behavior or politics.

Menurut US Central Intelligence Agency (CIA). Terorisme Internasional adalah Terorisme yang dilakukan dengan dukungan pemerintah atau organisasi asing dan atau diarahkan untuk melawan negara, lembaga atau pemerintahan asing .

Menurut US Federal Bureau of Investigation (FBI). Terorisme adalah penggunaan kekuasaan tidak sah atau kekerasan atas seseorang atau harta untuk mengintimidasi sebuah pemerintahan, penduduk sipil dan elemen-elemennya untuk mencapai tujuan-tujuan sosial atau politik .

1.3 Perkembangan Terorisme di Indonesia

Terorisme sebuah fenomena yang mengganggu. Aksi terorisme seringkali melibatkan beberapa negara. Sponsor internasional yang sesungguhnya adalah negara besar. Harus dipahami bahwa terorisme sekarang telah mendunia dan tidak memandang garis perbatasan internasional.
Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1373 yang menetapkan Al Qaeda pimpinan Osama bin Laden berada dibalik tragedi 11 September 2001 dan dinyatakan sebagai Terorisme yang harus diberantas oleh dunia telah menimbulkan berbagai reaksi dikalangan masyarakat internasional diantaranya muncul tanggapan yang menyatakan bahwa justru Amerika Serikat lah yang mensponsori aksi teror di dunia dengan membentuk konspirasi global yang didukung sekutunya dengan tujuan menghancurkan Islam di Indonesia tanggapan tersebut santer ketika munculnya pernyataan PM Senior Singapura Lee Kuan Yeuw bahwa Indonesia “Sarang Teroris” yang serta merta seluruh masyarakat Indonesia menolak pernyataan tersebut dengan membakar gambar/patung PM Singapura.
Walaupun Polri berhasil menangkap para pelaku serta mengungkap jaringan Terorisme yang berada dibalik peristiwa tersebut, namun hal ini sangat berdampak pada semua aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Atas hasil pengungkapan kasus peledakan bom Bali reaksi masyarakat yang semula cenderung apriori terhadap bom Bali, seolah-olah semua ini adalah hasil rekayasa internasional bersama pemerintah, kini telah bergeser dan mampu melihat fakta secara obyektif melalui proses penanganan dan pengungkapan berbagai macam serta semua jaringan dan para pelaku serta.
1.3.1 Aksi Terorisme Di Indonesia

Terorisme memiliki pengaruh kuat terhadap masyarakat, terutama jika dipublikasikan secara ekstrem oleh media cetak atau elektronik. Aksi kerusuhan tertentu sangat menarik dalam penayangan televisi. Apabila dengan siaran langsung dari tempat kejadian, jutaan pemirsa ikut mendengarkan, bahkan melihat teroris mengajukan tuntutan atau bereaksi. Aksi teroris modern berbeda dengan masa lalu, banyak masyarakat tak berdosa ikut menjadi korban. Aksi teroris selalu mengikuti perubahan zaman. Beberapa negara di dunia menyatakan diri perang melawan terorisme, tetapi terorisme tetap hidup dan ancamannya selalua berkembang menjadi semakin menakutkan.
Pencarian tindak terorisme di Indonesia yang selama 3 tahun terakhir tercatat sebanyak 15 kasus penting terorisme, wilayah dan target terorisme di Indonesia saat ini sudah meluas kepada kepentingan domestik dan internasional. Ini menunjukkan bahwa pencegahan dan penanggulangan terorisme yang tidak berhasil ditangani secara efektif akan makin meningkat intensitas dan frekwensinya semakin maju pengetahuan pelaku dan semakin modern teknologi yang digunakan semakin sulit di deteksi secara dini dan di ungkap.Terorisme melakukan aksinya di Indonesia “karena masih lemahnya payung hukum, rendahnya kualitas sumber daya manusia dan suburnya tingkat kemiskinan” 3 di tambah dengan “terbatasnya kualitas dan kapasitas intelejen negara”. 4 Dari kelemahan-kelemahan tersebut diatas maka Indonesia merupakan tempat yang paling empuk untuk dijadikan tempat aksi kejahatan terorisme sehingga Indonesia yang dililit banyak masalah menjadi amat menderita atas kejahatan terorisme tersebut, kondisi tersebut diatas merupakan pelajaran yang harus dipecahkan dan diselesaikan bersama antara penyelenggara negara, elit politik dan di dukung oleh seluruh lapisan masyarakat.
Sementara itu dengan melihat kejadian yang telah dilakukan oleh teroris bahwa indonesia mengutuk keras tindakan terorisme dalam segala bentuk memanifestasikannya serta menekankan pentingnya untuk tidak menyamakan terorisme dengan ajaran atau kelompok bangsa serta berbagai macam etnis tertentu yang ada di indonesia.

1.3.2  Upaya Mengatasi Terorisme Di Indonesia

Dalam mengatasi permasalahan terorisme berbagai upaya dilakukan lembaga pemerintah untuk mempersempit ruang gerak serta mencegah dan menanggulangi gerakan terorisme dengan membentuk satuan-satuan anti teror baik dari TNI, POLRI maupun lembaga-lembaga non pemerintah lainnya, namun hal ini dirasa masih belum mampu mengatasi bahkan hal ini menimbulkan reaksi keras dari masyarakat terhadap kinerja aparat yang dinilai selalu kecolongan atau lamban bahkan tidak memiliki kemampuan untuk mencegah dan mengungkap serta menghukum pelaku-pelaku teror.
Oleh sebab itu untuk mengatasi hal tersebut diatas perlu dilakukan secara menyeluruh yaitu dengan melakukan kerjasama antar aparat serta birokrasi yang diperkuat dengan struktur hukum yang kokoh. Indonesia sepakat bahwa kampanye melawan teroris hanya dapat dimenangkan melalui langkah-langkah komprehensif dan seimbang sepenuhnya, sejalan dengan tujuan dan prinsip Piagam PBB dengan meletakkan pondasi hukum yang dapat melindungi baik kepentingan publik maupun hak-hak azasi manusia, ditambah dengan melakukan peningkatan kerjasama dengan negara-negara lain baik dari Asean, Australia, Jepang dan negara-negara maju lainnya yang memiliki kemampuan teknologi modern.
Selain kerjasama antar aparat dan antar negara yang juga perlu ditingkatkan adalah kinerja lembaga Intelejen Negara yang akhir-akhir ini dianggap masih lemah, penanganan terhadap masalah terorisme membutuhkan kualitas dan kapasitas Intelejen yang tinggi untuk dapat mengungkap pelaku dan motif dibalik aksi terorisme, serta akar permasalahan yang mendasarinya oleh sebab itu pemerintah diminta meningkatkan efektifitas kinerja Lembaga Intelejen Negara dengan melakukan kerjasama dan koordinasi antar lembaga, karena apabila hal ini terlaksana dengan baik pencegahan dan peringatan dini terhadap segala bentuk ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan akan mudah diatasi.
Langkah-langkah kerjasama antar negara untuk memerangi terorisme, telah memiliki dasar yang kuat setelah pengesahan Convention for Prevention and Suprression of Terrorism (1937) yang diperkukuh oleh pelbagai konvensi Internasional lain hingga The Convention on the Marking of Plastic Explosives fot the Purpose of Detection, yang ditandatangi di Montreal 1 Maret 1991.
Yang tidak kalah pentingnya dalam penanganan masalah terorisme adalah dengan melibatkan masyarakat secara luas yang peduli terhadap lingkungan dan memiliki rasa nasionalisme yang tinggi dengan didasari rasa tanggung jawab dan kesadaran yang tinggi merasa senasib dan seperjuangan sebagai bangsa yang bermartabat dengan memiliki jati diri meskipun dari suku bangsa dan agama yang berbeda namun tetap merupakan satu kesatuan yang utuh, kepedulian masyarakat terhadap diri dan lingkungannya sangat berpengaruh untuk mengetahui dan mengatasi secara dini segala bentuk ancaman terorisme.

1.4  Pengaruh Terorisme Terhadap Agama Islam

Sebagai agama, Islam dalam ajarannya sudah pasti menentang segala bentuk dan tindakan terorisme. Namun dalam ajaran oleh para pengikutnya, agama Islam kerap maju sebagai sosok politik dan ideologi. Dengan begitu, hampir pasti tak bisa mengelak jika dipakai oleh para aktivis Islam ekstrim untuk melakukan justifikasi bagi aksi kekerasan terorisme. Terorisme selama ini terbukti paling mudah berkedok agama untuk memikat pengikut guna melancarkan gerakan politik ekstrim yang biadab. Maka, masuk akal jika pengamat politik sekaligus Direktur Pelaksana East Preston Islamic College, Australia, Esad Alagis, menilai pengeboman di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton 17 Juli 2009 tidak terkait masalah agama, tetapi lebih ke soal politik

Esad meyakini apa yang dialami oleh negara Indonesia diakibatkan masalah politik, dan bukan faktor agama Islam. Maksudnya, bom teroris adalah pesan politik dan gerakan politik ekstrim. Tentu saja agama tidak membenarkan hal ini. Persoalannya, dengan segala pandangan dan tuduhan terhadap agama, Islam telah mengalami eksploitasi dan dibajak sedemikian rupa oleh para teroris untuk mendominasi aksinya. “Islam dibajak dan dijadikan justifikasi untuk membenar-benarkan terorisme. Sehingga sejumlah kaum muda terpikat dan terlibat di dalamnya,” kata Alagis.Hasil yang didapat sudah pasti, sebuah karakter buruk diemban Umat Islam karena dianggap melakukan kejahatan dengan melakukan pembunuhan dengan pengeboman.

Mantan Kepala Badan Intelejen Negara Hendro Priyono membenarkan pendapat tersebut. Bahkan dari periode masa sebelum ledakan bom di kedutaan Australia, ancaman teroris di tanah air sudah terdeteksi masuk dengan mempergunakan ajaran agama sebagai ideolgi pembenaran operasi teroris. “Terorisme terjadi akibat ideologi, bukan kepentingan. Cara mencegahnya adalah dengan menghentikan cara berfirkir seseorang yang berkepribadian terbelah, serta perlunya keberadaan UU inteligen,” ujar mantan kepala badan intelejen negara tersebut.
Soal pembajakan agama oleh teroris, mantan Ketua Mantiqi III Jamaah Islamiyah (JI) Nasir Abas mengakui, secara simbolik penggunaan nama Islam dipakai Noordin M Top dan JI dalam mencapai tujuan mereka seperti peledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton.

Bahkan Nasir melihat, teror bom yang menewaskan sembilan orang itu mungkin sebagai aksi protes menolak penambahan pasukan Amerika Serikat di Afganistan yang akan menghambat gerak Al Qaeda dan Taliban yang diidolakan Noordin dan para teroris lainnya. Sebab AS terkesan hegemonis dan intervensionis atas dunia Islam itu.

“Aksi di JW Marriott dan Ritz-Carlton itu dilakukan oleh pihak yang sama, yaitu kelompoknya Noordin. Kenapa dilakukan di Indonesia? Ya selalu begitu. Sebab menyambut seruan Osama bin Laden, yang mengajak umat Islam dunia membalas serangan Amerika Serikat dan sekutunya di mana pun berada. Ketika ada di Indonesia, ya di Indonesia,” kata Nasir. Pengalamannya saat aktif di JI, dirinya membawahi kawasan Kalimantan (Borneo), Sulawesi (Celebes), dan Filipina Selatan. Noordin M Top adalah salah satu anggotanya pada 1996-1997. Ketika 1997, Nasir dipindah ke Sabah untuk membina wilayah III, sehingga kontak dengan Noordin terputus.

Nasir yang telah mengenyam pendidikan militer di Afghanistan, mewanti semua pihak keamanan agar harus selalu waspada sebab menangkap kelompok Noordin dan jaringannya akan sulit. Apalagi Noordin selalu merekrut orang baru dan langsung dilibatkan dalam aksi selanjutnya. Sehingga sulit menelusuri siapa saja orang orang yang pernah direkrut oleh Nordin M. Top lantaran tidak ada catatan sebelumnya. Jadi kesiap siagaan kita dan kewaspadaan warga masyarakat sebagai pedoman penting sebagai fungsi tangkal dari upaya operasi terorisme yang akan beraksi. Situasi dan kondisi pada hari-hari ini cukup memprihatinkan. Dimana Islam diopinikan sebagai agama teroris, dan teroris identik dengan umat Islam terkhusus orang-orang yang dipandang “militan”. Wallahul Musta’an.

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Rangkaian tindakan terorisme di Indonesia telah menimbulkan kerugian yang cukup besar baik jiwa maupun harta, mengungkap dan mendeteksi secara dini aksi teroris yang memiliki jaringan terorisme Internasional sampai saat ini belum dapat dijangkau secara keseluruhan oleh lembaga dan aparat pemerintah di Indonesia. Pemerintah harus segera menyelesaikan permasalahan yang menjadi momok yang paling menakutkan karena dampak yang ditimbulkan dari aksi terorisme yaitu merusak mental, melemahkan semangat dan daya juang masyarakat dan dalam jangka panjang akan dapat melumpuhkan berbagai sendi-sendi yang ada dalam kehidupan bermasyarakat.

“Bahwa tidak ada satupun negara yang kebal terhadap teroris dan menurut komunitas internasional, Indonesia merupakan soft target (sasaran empuk), sehingga suka atau tidak suka setiap negara perlu bersiap sebaik mungkin, baik dari aspek politik, hukum, administrasi”.

SARAN

Pada kesempatan ini penulis sebagai manusia biasa hanya bisa mengingatkan, bahwa terorisme pada mulananya menjanjikan sesuatu yang baik, tapi pada akhirnya hanya kerugian yang akan diperoleh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s